You are currently viewing Kisah Jono, Memilih Bertahan Meski Penumpang Jasa Penyeberangan Sungai Sambas Menyepi

Kisah Jono, Memilih Bertahan Meski Penumpang Jasa Penyeberangan Sungai Sambas Menyepi

Pojokkatanews.com-Penumpang jasa penyeberangan sampan di sungai Sambas kian tahun mulai menurun. Kondisi ini semakin diperparah pada masa Pendemi Covid-19.

Lokasi Pasar Sambas

Jono salah satu pelaku usaha jasa angkutan perahu mengaku sejak tahun 1947 melakukan usaha penyeberangan mengunakan sampan.

Dirinya menceritakan saat memulai usaha tahun 1974 masyarakat yang menggunakan jasa penyeberangan sampan sangat ramai bahwa sampai malam hari. Namun sejak memasuki tahun 2000-an penumpang mulai sepi.

“Ya, sejak tahun 2000-an penumpang sudah terasa sepi, dulu kita hanya menggunakan dayung sekarang seiring perkembangan zaman kita juga mengungkapkan motor air,” katanya. Selasa (11/1/2022)

Berkurangnya penumpang disampaikan Jono karena masyarakat telah beralih menggunakan jalur darat dan memiliki kendaraan pribadi.

Jono mengungkapkan penumpang di sore hari sepi, bahkan untuk mencari penumpang dirinya bersama teman seprofesi pindah dari pasar sambas ke dermaga di depan istana sambas

“Kalau sore hari sepi, dan Istana pengunjungnya ramai kami pindah ke dermaga di depan sungai istana,” tuturnya.

Pendapatan yang tak menentu setiap harinya menjadikan Jono dan teman-temannya menjadi jasa pengangkut membawa barang titipan orang dari pasar sayur hingga ke dermaga. Dirinya mengungkapkan tarif untuk penumpang 2000 rupiah dan jasa angkut barang tidak ditentukan

“Satu orang penambang tarifnya 2000 (per penumpang), kalau untuk jasa angkut barang tidak ditentukan. Biasanya orang memberikan 5000 hingga 10.000 rupiah”, jelasnya.

Jono mengungkapkan dirinya berangkat dari rumahnya yang berada di pinggiran sungai sambas pukul 06.00 WIB dan pulang pukul 17.00 WIB bahkan terkadang hampir memasuki waktu maghrib

Kondisi Pandemi Covid-19 melanda membuat banyak orang jatuh bangun disegala kehidupan. Tak luput juga dari perjuangan Jono dalam pekerjaan yang hingga saat ini masih bekerja sebagai jasa penyeberangan sampan di sungai sambas.

Namun demi untuk memenuhi kebutuhan keluarga dimana Jono memiliki tiga orang anak tidak banyak yang bisa dilakukannya. Dirinya tatap bertahan.

“Saat di awal-awal pandemi Covid-19 seringkali kami hanya mendapatkan satu orang penumpang, penghasilan yang minim disaat pandemi terkadang pulang membawa 2000 rupiah yang untuk membeli 1 kg beras saja tidak cukup, beruntung saya memiliki anak yang sedikit banyak dapat membantu perekonomian khususnya untuk belanja bahan dapur,” Pungkasnya. (Nik)

Tinggalkan Balasan