PojokKatanews.com- Memasuki Kota Sambas, tentara jepang mengemban misi membumi hanguskan peninggalan kolonial Belanda yang telah menghisap bumi Indonesia tiga setengah abad lamanya.
Itulah sebuah pembuka diskusi pagi bersama sejarawan muda Sambas A’an S.Pd di sebuah warung kopi di pasar kota Sambas.
Dia baru saja menelusuri jejak, menggali kebenaran dan fakta, serta sisa-sisa peninggalan pada masa penjajahan.
“Geratak Asam dan Gerattak Batu ini adalah sebuah keunikan sejarah di Sambas, dibangun pada tahun 1941 dengan gaya Belanda dan diarsiteki oleh orang Indonesia lalu tidak dihancurkan oleh tentara Jepang yang saat itu sedang dalam misi menghancurkan sisa dan simbol Belanda di Sambas,”ungkapnya.
Peperangan kala itu kata A’an, berlangsung antara tentara Jepang dan prajurit Belanda dengan cukup sengit. 90 persen bangunan yang dibuat oleh kolonial belanda di bom, diratakan dengan tanah, sedangkan 10 persen tersisa adalah dua Jembatan besar yang menjadi urat nadi, bahkan objek paling vital kala itu. Gerattak Batu dan Gerattak Asam.
“1942, Jepang masuk ke Sambas, mereka membombardir benteng-benteng kecil atau tangsi Belanda tanpa sisa, bangunan-bangunan Belanda dikuasai, sebagian besar dihancurkan, kecuali Gerattak Asam dan Gerattak Batu,” papar A’an yang sedang mengumpulkan bahan dan bukti sejarah peristiwa Sambas Berdarah ini.
Di Sambas, siapa yang tak tahu dan tak bangga akan dua Jembatan dengan bentuk sama persis ini, kokohnya jembatan berusia 80 tahun tersebut, tak goyah dan tak retak meski berat beban yang ditanggungnya semakin lama semakin membesar seirama zaman dan era.
“Para tokoh Sambas pada saat itulah yang memegang peran penting, sehingga Gerattak Asam dan Gerattak Batu terus berdiri tegak hingga detik ini. Para tokoh Sambas kala itu menyampaikan kepada Jepang agar dua bangunan Belanda itu tetap dipertahankan,” tuturnya.
Ditengah kebutuhan akan sarana infrastruktur yang memadai untuk mengimbangi perkembangan ekonomi, A’an menyarankan agar Gerattak Asam dan Gerattak Batu untuk tetap dipertahankan seperti sedia kala.
“Ada unsur herritage, sejarah, estetika dan fungsi pada Gerattak Asam dan Gerattak Batu, ini yang mesti kita jaga, ini yang harus dilestarikan dan biarkan dia tetap menjadi bukti bahwa kita pernah dijajah Belanda, silakan bangun jembatan baru, tapi jangan robohkan kedua Gerattak ini,”tegas dia.
Dalam Bahasa daerah Sambas, Gerattak berarti Jembatan dan ada tiga gerattak atau jembatan yang menyusun Kota ini seperti sebuah segitiga yakni, Gerattak Sabbok, Gerattak Asam dan Gerattak Batu.
Sebuah analogi mengatakan, Sambas belum maju dan akan sangat teramat maju, masyarakatnya baru membangun geretak, belum lagi membangun jembatan.(red)