pojokkatanews.com – Yayasan Pondok Pesantren Quran Al-Barakah yang beralamat di Gang. Alifah, No. A1, jalan Penjajab Timur, Desa Penjajab, Kecamatan Pemangkat, Kabupaten Sambas yang masih seumur jagung ini didirikan pada 01 September 2021 namun perkembangannya begitu pesat.
Saat diwawancarai pada Kamis, (07/04/2022), Pembina Yayasan Pondok Pesantren Al-Barakah, Rudi Hartono mengatakan, Ponpes tersebut diketuai oleh Rifo Ridillah, serta Penasehat K.H. M. Nurhasan, Ustadz Beni Sulastiyo, dan Ustadz H. Gustian.
“Pondok Pesantren Al-Barakah ini berdiri pada 01 September 2021, masih baru. Yayasan ini diketuai oleh Rifo Fadillah, Penasehat K.H. M. Nurhasan, Ustad Beni Sulastiyo, dan Ustad H. Gustian. Awal berdirinya diperuntukkan bagi santri dan santri yatim yang ingin menghafal Al-Quran. Ponpes Quran Al-Barakah ini baru mulai. Sementara santri yang sudah ada 40 orang, yang terdiri dari usia 6 – 12 tahun. Kegiatan masih tingkat dasar, yaitu Taman Pendidikan al-Quran (TPQ) yang di bulan Ramadhan ini sudah mulai, anak yang ingin belajar Al-Quran kita tampung dan diajarkan dasar-dasar mulai dari Iqro’,” Kata Rudi
Rudi juga menginformasikan bahwa penerimaan santri baru diperkirakan buka mulai 15 Mei 2022.
“Insha Allah pembukaan santri baru setelah lebaran Idulfitri sekitar tanggal 15 Mei 2022. Saat ini sebenarnya sudah ada belasan santri yang daftar dan kita tampung sementara. Bagi para santri yang ingin mendaftar silakan datang ke sekretariat Yayasan Al-Barakah yang ada di situ akan ada ustad bernama Muhammad Rizky yang akan standby dan boleh dikontak di nomor telepon 0895630498145,” Katanya
Ia menyampaikan bahwa ponpes ini memiliki program pendidikan yang terdiri dari Paud, TPQ dan Tahfiz Quran.
“Di dalam Ponpes ini memiliki 3 program pendidikan dari Paud, TPQ, dan Tahfiz Quran. Kita tahu bahwa tiga program ini lah menjadi pondasi bagi generasi muda dalam mengaplikasikan Al-Quran. Tujuannya endingnya penghafal Al-Quran dengan baik. Itu merupakan mimpi dan harapan kita semua,” katanya
Ia menambahkan, berusaha untuk menyajikan Pondok Quran yang mandiri dan sudah ada Baitul Muamalah, dengan adanya itu kami menggratiskan pendidikan yang ada di ponpes tersebut.
“Dari tiga program tersebut kami baru bergerak di TPQ nya. Dalam AD/ART kita juga sudah diatur untuk lembaga pendidikan yang akan kita gerakan adalah tiga jenis. Adapun dana yang kita sebut dalam ad/art, infaq dan sedekah ummat. Kemudian kita akan menerima jika ada dari pemerintah, swasta, dan para donatur yang ingin membantu,” tambah Rudi.
Saat ini Ponpes Quran al-Barakah belum menerima santri dari luar Kecamatan Pemangkat dikarenakan masih belum ada asrama atau tempat tinggal khusus santri.
“Bagi santri dari luar Kecamatan Pemangkat, kami belum menerima. Karena kita belum memiliki asrama atau rumah untuk santri. Jika ada, nanti akan kita tampung untuk santri yang berada di luar Kecamatan Pemangkat. Memang perencanaan kita dalam waktu dekat ini adalah mendirikan rumah ustad dan Rumah Santri di sepetak tanah yang akan kita buat dua rumah. Mohon doanya pembangunan selanjutnya berjalan dengan lancar,” paparnya
“Tantangan sebenarnya dari awal sudah ada. Terutama dari dalam diri saya sendiri. Basic keilmuan saya bukan ustadz, saya hanyalah pekerja di perusahaan swasta, mendirikan Ponpes Quran adalah dengan modal nekat lillahi Taala. Ingin berkontribusi mencari amal sholeh dari jalur Ponpes dan saya memulainya dengan niat dan tekad karena Allah,” tutur Rudi
Langkah pertama yang dilakukannya yakni mempersiapkan legalitas ponpes dalam bentuk yayasan. Kemudian mencari donasi untuk membangun medianya yaitu bangunan Ponpes. Namun kata Rudi, untuk membangun Ponpes itu butuh dana besar yang tentunya harus dimulai dengang memperkenalkan dulu Pondok Pesantren.
“Melakukan fundraising juga harus ada kegiatannya bukan. Jadi saya yang miskin ilmu ini tentu meminta pendapat para sepuh, maka jadilah bangunan surau yang diperuntukan bagi anak-anak belajar Al-Quran, disitu juga tempat masyarakat sholat lima waktu. Setelah ada bangunannya tentu saya mencari ustadz yang berkompeten yang paham dengan program yang ada di Ponpes. Baru lah memberitahu kepada masyarakat untuk menerima santri,” papar Rudi
Saat ditanya mengenai tantangan yang dihadapi ia menjawab, tantangan internalnya adalah dari diri sendiri yang masih faqir ilmu dan harus siap berkorban lahir dan batin.
“Saya yang fakir ilmu ini pasti dipandang rendah oleh orang yang kaya ilmu, seperti Ustadz atau pemuka masyarakat. Selain itu juga ketika kita merencanakan sesuatu harus siap berkorban lahir bathin. Karena kita tidak boleh berharap kepada manusia, tempat kita bersandar adalah Allah azza wajalla,” ulangnya.
Dikatakan Rudi, Ketika ingin mencari donasi, pertama kali yang diniatkan adalah semua karena Allah Taala. Perkara manusia ingin menyumbang yang membolak balikan hatinya adalah Allah yang memilki alam semesta ini.
“Tak hentinya kita berdoa memohon kepada Allah. Jadi tantangan eksternal adalah rajin-rajin membuat program mengajak kebaikan atau amal sholeh. Karena sejatinya kita yang butuh Allah,” Ujarnya
Rudi mengatakan, tidak ada yang sulit di dunia ini. Hanya saja pikiran sudah terdoktrin menjadikan sesuatu itu menjadi sulit.
“Kalau bagi saya di dunia ini tidak ada yang sulit, karena seseungguhnya sulit itu hanya otak dan pikiran kita yang telah mendoktrin sesuatu menjadi sulit. Maka kerjakan selagi bisa, berbuat baiklah selagi nyawa dikandung badan. Tidak ada yang sulit di muka bumi ini. Karena orang lain bisa membuat Pondok, kenapa kita tidak bisa,” ucapnya.
Rumusnya adalah semangat, ikhlas dan doa. InsyaAllah setiap kesulitan pasti ada kesenangan yang kita dapatkan. Wasilah membangun pondok Quran kita dipertemukan dengan orang-orang baik, wasilah pondok Quran kita dapat berkontribusi amal jariyah kepada ummat dan wasilah pondok Quran kita dapat mengajak orang untuk berbuat kebaikan. Maka saya kutip dari quote Munzalan : Jangan bosan jadi orang baik,” Tutup Pembina Ponpes Quran al-Baraqah. (nik)
Terima kasih Kim Pojok Kata, semoga wasilah berita ini mengundang banyak orang untuk membangun Sambas dengan akhlak kharimah. Pondasi generasi bangsa dimulai dari pembentukan karakter yg kuat sejak dini dan menanamkan nilai2 keagamaan yg didalamnya sudah ada akhlak dan budi pekerti.