pojokkatanews.com – Desa Sebangun kecamatan Sebawi kembali menggelar Festival Sagu yang mengusung tema Mari Berkreasi Dengan Sagu. Jumat (2/11/2022).
Staf Ahli Bupati Sambas Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia Fatma Aghitsni, S.TP., M.Si., mengapresiasi atas terselenggaranya kegiatan Festival Sagu 2022 yang sudah digelar kedua kalinya.
“Saya mengucapkan selamat dan mengapresiasi kepada seluruh masyarakat Desa Sebangun, umumnya Kecamatan Sebawi dapat melaksanakan kegiatan Festival Sagu 2022 di tahun kedua,” ucapnya.
Ia menerangkan bahwa kebudayaan sendiri dapat membentuk karakter bangsa dan jangan sampai budaya yang sudah lama dilestarikan, tergerus oleh perkembangan zaman dengan perlahan masuknya budaya luar.
“Sesuatu yang sukses itu sebenarnya berangkat dari dalam masyarakat itu sendiri dan itu yang mungkin kita namakan budaya. Kita juga tidak menampikkan bahwa dari budaya itu yang akan membentuk karakter bangsa, kita juga sudah melihat juga yang jelasnya tergerusnya budaya, tergerus juga karakter bangsa kita,” terang Fatma.
Ia berpesan anak muda penerus bangsa harus paham dan melestarikan budaya setempat dan budaya tersebut akan lebih menarik jika dikemas dengan budaya yang berbasis kearifan lokal.
“Jadi, yang perlu menjadi perhatian bersama bagaimana generasi-generasi muda kita dapat memahami dan melestarikan budaya setempat. Dari budaya akan membangun karakter yang lebih dikemas dalam konsep pariwisata berbasis budaya dan berbasis kearifan lokal maka itu akan bertahan lama dan bernilai jual yang tinggi,” Pesan staf ahli Bupati Sambas.
Fatma juga mengajak masyarakat untuk tidak mengikuti budaya luar yang tidak sesuai dengan kebiasaan dan kedepannya festival sagu harus dikonsep dan dikreasikan dengan suasana yang berbeda dari tahun sebelumnya seperti dilaksanakan di hutan sagu dan di tepi sungai.
“Mari kita bangun Desa Sebangun dari akar budaya, karena itulah yang akan bertahan. Jangan pernah malu dengan budaya kita dan jangan sampai mengikut budaya lain yang sebenarnya tidak cocok untuk kita. Alangkah indahnya ketika Festival Sagu itu berada di hutan sagu dan di tepi sungai, dari situ juga dapat menarik untuk wisata airnya, itu perlu kita kembangkan,” ajaknya.
“Bagaimana melestarikan dan mempertahankan terutama sagu itu sendiri, jangan sampai tergerus oleh perkembangan zaman terutama oleh sawit. Desa-desa yang lain juga harus menyiapkan atau memproteksi lahan yang memang khusus untuk tanaman sagu dan tidak diganggu,” tambahnya.
Ia berharap kegiatan tersebut berjalan dengan lancar dan bisa dilanjutkan di tahun-tahun berikutnya dan menjadi agenda tahunan Desa Sebangun.
“Tentunya Desa Sebangun akan mempertahankan festival ini dan tidak hanya sampai 5 tahun, tapi harus berkelanjutan, itu sebenarnya konsep pariwisata. Kedepannya konsep pariwisata yang harus diterapkan itu selain sapta pesona adalah Cleanliness, Health, Safety & Environment Sustainability (CHSE),” tutup Fatma.
Di tempat yang sama, Sekretaris Dinas Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Sambas, Urai Riza Fahmi mengatakan belum ada desa lain yang menyelenggarakan Festival Sagu sebelumnya baik di tingkat kabupaten maupun provinsi dan Desa Sebangun yang melaksanakan kegiatan tersebut semoga bisa menjadi ikon Kecamatan Sebawi.
“Kegiatan ini merupakan kegiatan yang unik khususnya untuk di Kabupaten Sambas karena sebelumnya belum ada festival sagu
dari 7 desa yang ada di Kecamatan Sebawi, tingkat kabupaten bahkan Kalimantan Barat,” ujarnya.
Disparpora Kabupaten Sambas mendukung penuh kegiatan Festival Sagu 2022 dan jika berlanjut hingga ditahun ketiga dan tahun keempat akan didaftarkan untuk even nasional dan desa-desa lain juga harus menciptakan kegiatan yang serupa sesuai dengan karakteristik desa masing-masing.
“Kami dari Disparpora tetap mendukung kegiatan ini, jika tahun depan dan tahun ke 4 masih ada dan berlanjut akan kita daftarkan even nasional tetapi harus kita lihat juga perkembangannya. Untuk desa-desa lain di Kabupaten Sambas semoga segera bisa menyusul mengadakan even sesuai dengan karakteristik desanya masing-masing,” Pesan Urai Riza.
Ia juga menginformasikan bahwa Disparpora Kabupaten Sambas sudah merancang beberapa kegiatan tahun depan.
“Tahun depan pariwisata udah merancang akan ada festival muare ulakan sekitar bulan februari, even kedua kita laksanakan Lomba Sampan Bidar pada bulan Juli dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Sambas, akhir tahun festival Temajuk dan festival sagu,” infonya.
Ia berharap dengan terlaksananya kegiatan tersebut desa-desa yang lain juga turut berkontribusi dan bergotong royong dalam mensukseskan acara.
“Harapan kita festival sagu itu punya masyarakat Kecamatan Sebawi bukan hanya milik desa, bila perlu seluruh desa yang ada di Kecamatan Sebawi bergotong royong mensukseskan kegiatan festival sagu dengan harapan nanti ada imbasnya,” harap Urai Riza.
Kepala Desa Sebangun, Sarbini, mengungkapkan rasa syukur dan terima kasihnya atas terselenggaranya kegiatan tersebut dengan bantuan stakeholder dan para donatur terkait dalam mensukseskan kegiatan Festival Sagu 2022
“Alhamdulillah, kami sangat berterima kasih kepada Pemda Sambas dan seluruh pihak yang terlibat dalam mensukseskan kegiatan ini. Kegiatan Festival Sagu yang kedua kalinya ini merupakan kegiatan kolaborasi bekerja sama dengan stakeholder dari berbagai pihak karena, tanpa kolaborasi dari berbagai pihak mungkin kegiatan ini tidak akan terlaksana,” ucapnya dengan haru.
Dikatakan Sarbini, bahwa kegiatan tersebut dikonsep sedemikian rupa dengan memanfaatkan seluruh komponen batang sagu, salah satunya adalah kulit sagu yang dijadikan karpet.
“Kegiatan ini dikonsep seperti suasana tahun 90 an, karena hampir di setiap sudut dan perlengkapan ada saja yang terbuat dari sagu baik itu kulit sagu seperti karpet yang ada di depan kita saat ini, jika biasanya ada karpet merah atau biru, di Festival Sagu terdapat karpet yang terbuat dari kulit sagu,” katanya.
Ia menuturkan terdapat sembilan Loma yang diusung pada Festival Sagu 2022.
“Ada 9 kegiatan lomba Festival Sagu tahun ini yang kita usung dengan tema Mari Berekreasi Dengan Sagu. Adapun 9 lomba tersebut yaitu lomba melempeng sagu, lomba menggulingkan sagu, lomba tari kreasi, lomba kuliner tepung sagu, lomba kuliner umbut sagu, lomba becacak di batang sagu, lomba sampan pelepah sagu, lomba buat atap daun sagu, dan lomba bekesah,” terangnya.
Ia menyampaikan bahwa sagu dapat menjadi pembangkit nilai ekonomi masyarakat setempat dengan dijadikan beberapa olahan sagu salah satunya yang sudah menjadi OVOP Desa Sebangun ialah mie sagu instan.
“Kita tidak akan meninggalkan tradisi kita di desa yang sebagian besarnya adalah tanaman sagu. Bagaimana dengan sagu kita bisa menjadikan sagu sebagai nilai ekonomi dan menjadi suatu kegiatan yang dapat menarik wisatawan untuk berkunjung,” pungkasnya. (nik)