You are currently viewing Belukar Suara Goda Petugas Pemilu

Belukar Suara Goda Petugas Pemilu

Pojokkatanews.com – Mendekati hari pencoblosan pemilu 2024 pada 14 februari lusa, tim sukses peserta pemilu semakin gencar melakukan praktik money politik kepada masyarakat umum, bahkan panitia penyelenggara Pemilu.

 

Salah satu panitia yang mengakui hal tersebut Ahmad (nama samaran) asal Sambas mengatakan, dirinya mendapat pesan melalui WhatsApp dan Facebook mengajak untuk menjadi tim sukses dari salah satu peserta pemilu.

“Sekali saya mendapatkan pesan yang isinya mengajak untuk menjadi tim sukses dari salah calon legislatif DPRD Kabupaten Sambas, saya juga diarahkan untuk mengajak keluarga, yang mana satu suara itu di hargai 50 ribu hingga 100 ribu,” ucapnya. Senin. (12/2/2024).

Ahmad mengaku tidak kaget mendapatkan pesan seperti itu, karena bukan hanya sekali, namun sudah sering diajak.

“Awal-awal tentu saya kaget, karena saya juga salah satu panitia pelaksana pada pemilu ini, namun keseringan hal itu menjadi biasa bagi saya,” ucapnya.

 

“Kadang-kadang saya juga bertanya kepada panitia lainnya, ternyata tidak hanya saya yang diajak, banyak panitia pelaksana yang juga mengambil job tersebut dengan uang yang diberikan dan juga banyak panitia pelaksana yang ikut dalam praktik money politik, apalagi menjelang H-1 nanti,” tambahnya.

Ahmad mengurungkan niatnya untuk melaporkan hal tersebut, karena masih merupakan kerabat dan keluarganya.

 

“Tentu tidak mau saya laporkan, karena yang mengajak tersebut biasanya kerabat keluarga ataupun orang yang dikenal, daripada terkena sanksi sosial di masyarakat lebih baik saya diamkan saja, hanya pesan saya hati-hati dan tahu-tahu saja agar tidak ketahuan oleh orang yang tak suka,” terangnya.

 

Dia juga mengakui, adanya panitia pemilu yang melakukan politik praktis dan menggadaikan integritas mereka, namun hal ini dianggap biasa saja selama bisa ditutupi dan disembunyikan dengan baik.

 

“Menurut saya kemungkinan setiap panitia pelaksanaan pemilu di Kabupaten Sambas juga menjadi tim, bahkan ada juga ketua yang mengajak panitia lainnya dan hal ini bukan hal yang tabu bagi masyarakat,” jelasnya. (Run).

 

Di lain tempat, tepatnya Kecamatan Sajad Kabupaten Sambas, satu diantara warga mengeluhkan begitu maraknya praktik jual beli suara pada Pemilu 2024.

 

“Banyak sekali, ada tim dari dua caleg berbeda yang sangat gencar melakukan money politic kedua-duanya incumbent, kisarannya dari 100 sampai 200 ribu per satu suara,” bebernya.

 

Dia juga mengungkapkan, terdapat beberapa tim dari caleg lainnya yang merupakan pendatang baru menggunakan cara sama, yakni membeli suara.

 

“Ada lagi caleg baru, bukan dewan, satu suara 300 ribu, ada yang 200 dan 250 ribu, pokoknya Kecamatan kami tempatnya para caleg yang tidak punya visi misi menabur uang, semoga saja merugi dan kalah,” tuturnya geram.

 

Menanggapi hal tersebut, Ketua HMI Sambas, Rizal meminta agar Bawaslu Sambas semakain gencar melakukan monitoring di lapangan mencegah terjadinya jual beli suara

“Kalau saja yang disebutkan bahwa sampai panitia penyelenggara pun ada yang terlibat praktik money politic, kita hanya berharap agar ini sebagian saja, semoga mereka diingatkan dengan sumpah saat dilantik agar selalu menjaga integritas diri.

 

“Satu diantara cara yang bisa dilakukan adalah memetakan daerah rawan kecurangan seperti serangan fajar, money politic dan lain-lain,” pintanya.

 

Rizal juga meminta agar Bawaslu melibatkan aparat Kepolisian untuk menekan agar para belukar suara dan caleg nakal tidak bisa melakukan operasi jual beli suara, serangan fajar dan kecurangan lainnya.

 

“Libatkan aparat kepolisian untuk berpatroli di daerah yang rawan money politic dan kecurangan lainnya sampai di hari pencoblosan, misalnya di Kecamatan Sajad yang saat ini sangat sarat serangan politik uang, tindakan patroli sembari memberikan warning konsekuensi hukum kepada para pelaku money politic akan bisa menekan adanya hal tersebut dan menjadikan Pemilu semakin berkualitas,” pungkasnya. (Run)

 

 

Tinggalkan Balasan