You are currently viewing Gairah Sepakbola di Ujung Utara

Gairah Sepakbola di Ujung Utara

Pojokkatanews.com- Sepakbola tak hanya sebuah cabang olahraga. Ianya menjadi hasrat demi prestasi, gengsi dan hobi. Olah raga yang satu ini adalah sebuah kegandrungan yang menggila, tak hanya bagi penggemarnya namun juga para pemainnya.

Disela sengkarut cerita organisasi  induk sepak bola PSSI Indonesia yang sering diterpa isu miring, jauh di ujung pulau Kalimantan, olah raga ini menjadi jiwa masyarakatnya meski belum bisa bicara banyak di kancah sepakbola nasional.

Di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, berbicara sepakbola ibarat cerita tentang beras, bahkan lebih sering menjadi menu utama sebuah obrolan ketimbang narkoba yang puluhan kilonya melintasi bumi serambi mekah ini hampir setiap tahunnya.

Disini, selalu terdapat agenda pertandingan yang rutin diselenggarakan setiap setahun sekali usai Idul Fitri. di Kecamatan Sajad, Desa Tengguli selalu menjadi tuan rumah pertandingan dengan level antar kampung sejak 36 tahun silam.

Entah itu berawal dari euforia piala dunia 1982 yang dihelat di Spanyol, dengan Italia yang keluar sebagai juaranya usai beradu kaki dengan Jerman Barat dengan skor akhir 3-1, yang jelas Sambas Tengguli Open sejak 36 tahun lalu ini selalu sukses menyedot perhatian mata rakyat Sambas.

“Mungkin menjadi sarana silaturahmi Idul Fitri, dahulu hadiahnya berupa kambing yang diperebutkan oleh puluhan kesebelasan dari berbagai Desa yang turut bertanding,” ujar pelaku sepakbola sambas Ulie.

Nyatanya kegiatan yang terlepas dari agenda PSSI, KONI atau Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) ini tak pernah tersentuh skandal apapun, mungkin karena dikelola dengan semangat kegotong royongan masyarakat desa.

“Kompetisi pertama kalinya dinamakan putera rimba kemudian menjadi Opti yakni organisasi pelajar tengguli,  lalu seiring berjalannya waktu, Opti kemudian berubah menjadi Tengguli Cup hingga sekarang,” kata Tokoh Pemuda di Kecamatan Sajad, Senri Setiawan.

Kompetisi ini bisa jadi adalah agenda sepakbola tertua di Bumi Khatulistiwa, bagaimana tidak, karena sejak puluhan tahun silam, Tengguli Cup yang sudah tiga kali berganti nama ini terselenggara dengan rutin setiap tahunnya.

Setiap penyelenggaraan tidak pernah ditemukan keributan berarti, entah itu antar pemain, official atau antar kelompok desa. “Kami memang tidak melibatkan PSSI, KONI atau instansi terkait, karena kami yakin dengan semangat kebersamaan dan silaturahmi, kompetisi bisa dijalankan dengan baik dan reguler,” tambah Senri.

“Masyarakat disini menyadari betul bahwa Tengguli Cup merupakan agenda sepakbola tertua di Kalbar, karenanya nilai-nilai historis yang menjadi kebanggaan tersebut menjadi modal dasar kita untuk menjaga keberlangsungan kompetisi ini dengan baik,” terang Senri.

Jika pada beberapa penyelenggaraan event sepakbola atau olahraga lainnya, penyelenggaraan pertandingan selalu memberatkan para sponsor dan pemerintah untuk campur tangan dalam hal finansial, maka tengguli cup adalah sebuah contoh konkrit sebuah keinginan untuk memajukan sepakbola yang murni tanpa mengharap belas kasih, malah yang terjadi adalah kebalikannya. Dari kegiatan tersebut, panitia bahkan bisa memberikan pemasukan bagi Desa Tengguli jutaan rupiah dalam setiap kali ajang ini terselenggara.

“Untuk pengelolaan dan manajemen keuangan, kita memang tidak mengharapkan adanya bantuan dari luar, sumber kita adalah dari karcis penonton, dan itu kita kelola untuk hadiah bagi para pemenang dan modal awal penyelenggaraan tahun mendatang, sebagian juga kita berikan ke Desa sebagai pemasukan,”paparnya.

Meski tidak lama, roda perekonomian pun berjalan mulus bagi warga Desa Tengguli dan sekitarnya, selama musim pertandingan berlangsung, warga beramai-ramai membuka warung dadakan guna melayani penonton yang hendak membeli jajanan, minuman hingga berbelanja pakaian. (Red)

Tinggalkan Balasan